Welcome To My Blog

Selamat datang di blogku yg sederhana...

Blog ini masih dalam tahap pembangunan..

Maka dari itu kami sangat membutuhkan kritik & saran anda..

.....
...
Dan ingat jangan sia-siakan waktu anda..
Karena......

Waktu Adalah Uang

Dan

Waktu Adalah Pedang


Ada kesalahan di dalam gadget ini

Weather

Weather
A Cloud

Masalah

Jika anda memiliki masalah tentang blog ini..

Tanyakan di Tanya Jawab maka masalah anda akan teratasi..




Dan kami mohon saran dan kritiknya untuk kemajuan blog kami..

" Live Is Studying "

Minggu, 22 Januari 2012

Malu

http://fitrimelinda.files.wordpress.com/2010/06/desaturated-rose.jpg?w=300&h=225
Malu adalah akhlak yang menghiasi seluruh akhlak dengan sinar dan cahayanya. Malu pada diri seorang lelaki merupakan akhlak terpuji, sedangkan malu pada wanita adalah fitrah dan tabiat. Tidak masuk akal bila ada wanita yang tidak memiliki rasa malu. Jika ada, maka ia adalah sumber kebencian dan keburukan.
Wahai wanita yang mulia, ketika saya berbicara tentang akhlak ini, ku persembahkan sebuah karangan bunga untuk kita, yaitu bunga malu yang mahal, yang akan menjadikan kita sebaik-baik wanita.


Apakah Malu itu?
Imam Nawawi mengatakan,
”para ulama pernah berkata, bahwa malu adalah suatu sikap akhlaK yang mendorong manusia untuk meninggalkan perbuatan buruk dan menghalangi diri dari sikap lalai terhadap pemenuhan hak.”
Abul qasim Junaidi berkata,
”malu adalah suatu sikap yang mendorong seseorang untuk mensyukuri karunia Allah, dan mencegah manusia dari lalai mensyukurinya,”
Macam-macam Malu
  1. Malu Fitri yaitu malu yang sudah melekat pada diri seseorang
  2. Malu Imani, seperti yang dikatakan oleh Imam Junaidi,”seorang mukmin yang ingin melakukan maksiat tiba-tiba ia menarik kembali keinginannya itu karena rasa malunya kepada Allah.”
  3. Malu kepada diri sendiri, atau yang dinamakan perasaan.
Imam Ali r.a. berkata,
”orang yang menjadikan malu sebagai pakaiannya, maka orang lain akan sulit melihat keburukannya.”

Malu Bagian dari Iman
Sesungguhnya bangunan akhlak yang kokoh tidak akan bisa berdiri selamanya kecuali apabila berdiri di atas fondasi iman yg telah menancap kuat dalam jiwa, memenuhi hati dan menguasai perasaan.
Rasulullah saw bersabda,
”iman dan malu mempunyai ikatan, apabila salah satunya diangkat, maka yang lainnya akan terangkat.”
Adapun rahasia kedekatan malu dan iman adalah karena keduanya menyeru kepada kebaikan, serta berpaling dan menjauh dari keburukan.

Sumber Malu
Sumber malu adalah mengetahui keagungan, kekuasaan dan merasakan kedekatan Allah terhadap hamba-hambaNya, serta meyakini bahwa Allah mengetahui mata-mata khianat dan apa yang tersembunyi di dalam hati manusia. Ini merupakan tingkatan iman yang tertinggi.
Malu ibarat sebuah bangunan yang tersusun,. Apabila ditarik dari bawah, maka hancurlah seluruh bangunan di atasnya. Apabila malu telah hilang dari diri seseorang, maka yang ada hanyalah kebencian. Karena itu, pemilik rasa malu hendaknya jangan mengabaikannya, dan senantiasa merasakan bahwa malu adalah benteng yang menjaga dan memelihara keimanan..

Sifat malu ada dua macam, yaitu:

1. Malu yang merupakan watak asli manusia

Sifat malu jenis ini telah menjadi fitrah dan watak asli dari seseorang. Allah menganugerahkan sifat malu seperti ini kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Memiliki sifat malu seperti ini adalah nikmat yang besar, karena sifat malu tidak akan memunculkan kecuali perbuatan yang baik bagi hamba-hamba-Nya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, dari Imran Ibn Hushain radhiyallahu’anhu:
“Rasa malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari Muslim)

2. Malu yang diupayakan (dengan mempelajari syari’at)

Al-Qurthubi berkata, “Malu yang diupayakan inilah yang oleh Allah jadikan bagian dari keimanan. Malu jenis inilah yang dituntut, bukan malu karena watak atau tabiat. Jika seorang hamba dicabut rasa malunya, baik malu karena tabiat atau yang diupayakan, maka dia sudah tidak lagi memiliki pencegah yang dapat menyelamatkannya dari perbuatan jelek dan maksiat, sehingga jadilah dia setan yang terkutuk yang berjalan di muka bumi dalam wujud manusia.”

Hati-Hati terhadap Malu yang Tercela

Saudariku, ketahuilah bahwa ada malu
yang disebut malu tercela, yaitu malu
yang menjadikan pelakunya mengabaikan
hak-hak Allah Ta’ala sehingga akhirnya
dia beribadah kepada Allah dengan
kebodohan. Di antara malu yang tercela
adalah malu bertanya masalah agama,
tidak menunaikan hak-hak secara
sempurna, tidak memenuhi hak yang
menjadi tanggung jawabnya, termasuk
hak kaum muslimin.

Nah, saudariku, kini engkau tahu!
Meskipun malu adalah tabiat dasar
seorang wanita, sifat ini tidak boleh
menghalangimu untuk berbuat kebaikan.
Berlomba-lombalah dalam berbuat
kebaikan sampai engkau menjadi wanita
yang paling mulia di sisi Allah!
Wallahu a’lam.

Maraaji’:

Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi
Tarjamah Riyadhus Shalihin Jilid 2
Imam Nawawi, Takhrij: Syaikh M. Na

Menurut bahasa berarti perubahan, kehancuran perasaan atau duka cita yang terjadi pada jiwa manusia karena takut di cela. Adapun asal kata al-hayaa u (malu) berasal dari kata al-hayaatu (hidup), juga berasal dari kata al-hayaa (air hujan).
Sedangkan menurut istilah adalah akhlaq yang sesuai dengan sunnah yang membangkitkan fikiran untuk meninggalkan perkara yang buruk sehingga akan menjauhkan manusia dari kemaksiatan dan menghilangkan kemalasan untuk menjalankan hak Allah.
Makna tersebut dijelaskan dalam hadits Nabi shollallahu’alaihi wassallam, “Sesungguhnya termasuk yang didapati manusia dari perkataan para nabi terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu maka lakukanlah sekehendakmu’

Malu adalah Ciri Khas Keutamaan Manusia
Ketahuilah, Allah memberikan sifat malu agar manusia menahan diri dari keinginan-keinginannya sehingga tidak berprilaku seperti binatang. Ingatlah ketika Adam dan Hawa memakan buah yang terlarang lalu nampaklah aurat keduanya.
“Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. tatkala keduanya Telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku Telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Qs. Al-A’raaf : 22)
Dari ayat di atas menunjukkan bahwa secara fitrah manusia merasa malu jika tidak berpakaian. Dan tidaklah manusia itu memamerkan auratnya tanpa pakaian kecuali fitrahnya telah rusak. Sedangkan rusaknya fitrah adalah akibat gangguan iblis dan tentaranya.
Adapun orang yang berupaya menelanjangi badan dari pakaian, melucuti jiwa dari pakaian ketakwaan dan menghilangkan sifat malu kepada Allah dan manusia, mereka itulah yang menginginkan manusia lepas dari fitrahnya dan sifat-sifat kemanusiaannya. Padahal dengan fitrah dan sifat kemusiaannya itulah ia di sebut sebagai manusia.
Sesungguhnya telanjang adalah sifat asli dari hewan, manusia tidak punya kecenderungan kepadanya, jika sampai ada tentulah akan terjerumus dalam Lumpur kehewanan.
Anehnya, para pembantu syaitan yang hidup di tengah-tengah kaum muslimin memberikan nama-nama kepada para muslimah di rumah, di jalan, di sekolah atau di mana saja yang mengenakan jilbab, kerudung atau baju yang tebal, julukan yang menyakitkan (fanatik, ortodok dan lainnya). Padahal wanita muslimah tidak mengenakannya kecuali untuk menjaga kemuliaannya, menjaga auratnya dan agar tumbuh darinya seluruh fitrah islami yang murni, serta agar jelas perbedaan dirinya dengan mereka yang telanjang seperti hewan.
Perhatikanlah, dampak yang di timbulkan dari tempat-tempat mode, para desainer pakaian, salon-salon rias dan guru-gurunya terhadap kaum muslimah jaman sekarang, mereka melancarkan tipu daya dengan berbagai corak dan rupa, sebagaiman firman Allah Ta’ala,
“… dan akan aku (syaitan) suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya…” (Qs. An-Nisa’ : 119)
Ajakan tipu daya tersebut dituruti saja oleh para wanita yang terbiasa berbusana ‘telanjang’. Ketaatan seperti itu menghinakan pelakunya dan sekaligus membuat orang tertawa dan menangis. Merekalah wanita-wanita yang terbius, terbujuk, terpedaya oleh tipu daya syaitan berwujud manusia. Bahkan bisa jadi hewan yang hina sekalipun ikut menjelek-jelekan perilaku mereka yang mengikuti tren.
Mereka tidak menyadari bahwa mereka hanyalah digunakan sebagai propaganda obyek bisnis, apabila sudah tidak berguna lagi maka dicampakkan.
Disisi lain mereka juga dijadikan sarana pemuas syahwat terlarang yang merusak keluarga. Tampil dalam lembaran-lembaran majalah, filem-filem, kisah-kisah dan berita-berita dalam surat kabar. Seolah-olah majalah, surat kabar atau yang lainnya dikemas sebagai tempat pelacuran yang berpindah-pindah.
Jika ada wanita yang ingin menjaga kehormatannya, mereka tatap dengan pandangan penuh kebencian bagaikan penglihatan orang yang pingsan karena takut mati.
Wahai Saudariku janganlah engkau menjadi penolong syaitan yang celaka dan berpegang teguhlah pada Agama Allah dan kekuasaan-Nya.
Maqaami’usy Syaithaan (hal 25-26) oleh Salim bin ‘Ied al-Hilali,

Jenis-Jenis Malu
Terdapat banyak jenis-jenis malu, diantaranya :
 Malu kepada Allah,
Ketahuilah sesungguhnya celaan Allah itu diatas seluruh celaan. Dan pujian Allah subhanahu wata’ala itu diatas segala pujian. Orang yang tercela adalah orang yang dicela oleh Allah. Orang-orang yang terpuji adalah orang-orang yang dipuji oleh Allah.  Maka haruslah lebih malu kepada Allah dari pada yang lain.
Malu kepada Allah adalah jalan untuk menegakkan segala bentuk Ketaatan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Karena jika seorang hamba takut di cela Allah, tentunya ia tidak akan menolak ketaatan dan tidak pula mendekati kemaksiatan. Oleh karena itulah malu merupakan sebagian dari iman.
 Nabi shollallahu’alaihi wassallam bersabda, “Iman itu memiliki tujuh puluh cabang lebih, yang paling utama adalah ucapan laa ilaaha illallah (tiada illah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu termasuk salah satu cabang iman.

Malu kepada Manusia,
Termasuk jenis malu adalah malunya sebagian manusia kepda sebagian yang lain.  Sebagaimana malunya seorang anak kepada orangtuanya, isteri kepada suaminya, orang bodoh kepada orang pandai, serta malunya seorang gadis untuk terang-terangan menyatakan ingin menikah.
 “Dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, bahwasannya ia berkata, ‘wahai Rasulullah Shollallahu’alaihi Wa Sallam, sesungguhnya gadis itu malu. Maka Rasulullah Shollallahu’alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Persetujuannya diketahui dari diamnya’”.
 Malunya seseorang terhadap dirinya,
Dan ini salah satu bentuk malu yang di rasakan oleh jiwa yang terhormat, tinggi dan mulia, sehingga ia tidak puas dengan kekurangan , kerendahan dan kehinaan. Karena itu engkau akan menjumpai seseorang yang merasa malu kepada dirinya sendiri, seolah-olah di dalam raganya terdapat dua jiwa, yang satu merasa malu kepada yang lain.
Malu inilah yang paling sempurna karena jika pada dirinya sendiri saja sudah demikian malu, apalagi terhadap orang lain.


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ


Artinya :
Sesungguhnya segala pujian hanyalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, kami memuji-Nya, memohon pertolongan, memohon maghfirah hanya kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kejahatan-kejahatan hawa nafsu kami dan keburukan-keburukan amalan kami.

Dan barangsiapa yang diberi hidayah oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, serta barangsiapa yang disesatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala maka tidak ada pula yang dapat menunjukinya.

Kami bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan kami bersaksi bahwa Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa Sallam itu adalah seorang hamba dan Rasul-Nya. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa melimpahkan shalawat serta salam kepada beliau, keluarga, dan para shahabatnya serta umatnya yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat.

Amma Ba’du :


Segala puji hanyalah milik Allah, Tuhan Semesta alam, yang telah memberikan kita kesempatan, keluangan waktu dan kesehatan sehingga kita masih dapat hadir meluangkan waktu di tempat yang sederhana ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan oleh Allah SWT kepa junjungan Alam semesta, Nabi Muhammad SAW, yang telah berjuang tanpa kenal lelah mengeluarkan manusia dari alam yang gelap gulita tanpa cahaya menuju Alam yang berkilauan cahaya dan ilmu pengetahuan.

Bapak/ Ibu yang kami muliakan,
Hadirin sekalian yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan ini, izinkanlah saya menyampaikan beberapa mau'izhah untuk kita semua yang bertemakan"....."

1 komentar:

Putra Syah mengatakan...

Trims atas artikelnya...

Ada kesalahan di dalam gadget ini